Who Let The Dogs Out?
Have you met Baron? Well Baron is my pet Golden Retriever. Yes, he has the golden flying fur, big brown eyes, runs everywhere in and out of the house, a champion breed, somehow smart, and yes, he is very cute (he shows this off by tilting his head and gives an irrisistable smile).
Sounds like a dream pet? Not.
He is hungry all the time. Bahkan setelah tiga kali menghabiskan piring makanannya yang tiga kali lebih besar dari piring saya, dua snack dalam sehari, and occasional ice cream. Setiap kali saya pergi ke meja makan, membuka lemari es, membuka toples dan kegiatan serupa untuk mengisi perut, Baron akan mendekati saya, duduk diam di dekat kaki, dan memandang saya dengan muka penuh kelaparan yang sangat mengerikan. Seketika itu juga ia berubah menjadi singa ganas - dengan bulu lebih sedikit. Anda tidak dapat membayangkan betapa menyebalkan mimik dan kelakuannya pada saat-saat seperti ini (Baron pernah melahap dua roll sushi yang baru saya gulung, langsung dari atas pantry. But that's another nerve-wrecking story. Saya belum memaafkannya sampai sekarang). Intinya, setiap ada makanan barang sedikit, dengan berlari kencang Baron akan menghampirinya, dan berpose. Namun berusaha untuk tidak terlihat 'aduh bagi gue makanannya dong. Im sure you can imagine that.
Ternyata di dunia ini ada manusia-manusia yang kelakuannya PERSIS Baron (saya bersikeras untuk menuliskannya dengan caps lock).
Pada suatu sore, baru-baru ini, saya menemani Ibu saya ke sebuah pembukaan butik flagship di Plaza Senayan. Tampaknya pembukaan butik ini sudah lama ditunggu oleh kalangan pemerhati, pembeli dan pemimpi fashion satu Jakarta, maka dari itu suasana sangatlah ramai dengan kehadiran mereka, yang saya maksud dengan 'mereka' hanyalah pemerhati dan pembeli, serius.
Seperti biasa acara seperti ini dihadiri oleh media, banyak sekali media. Mulai dari majalah papan atas, papan bawah, papan samping sampai ke majalah gratisan (yang akhir-akhir ini cukup progresif dan diminati - boy, a dream come true untuk para pemimpi yang tadi saya sebut).
Hal yang akan saya ceritakan berikut ini benar-benar terjadi, maksud saya, benar-benar terjadi seperti apa yang akan saya tuliskan. Tidak dikurangi, dan jujur saja saya malas untuk melebih-lebihkannya, sebagai konsekuensi dari penggunaan caps lock tadi.
Sambil memegang, sesekali menyeruput minuman dan mendengarkan pembicaraan Ibu saya dengan temannya, tiba-tiba saya merasakan adanya sebuah pergerakan dalam ruangan yang sudah penuh sesak. Posisi orang-orang dibelakang saya berpindah semua, seperti terdorong oleh serombongan ibu-ibu bersasak tinggi, berparas menor, berbaju terang, dan berberlian besar-besar, hampir sepertiga es batu yang ada dalam gelas saya. It's so severe that you can feel the movement at the back of your spines.
Muka-muka mereka begitu kencang, seperti meneriakkan 'ku tahu yang ku mau!. Dan dengan semakin mengencangnya muka mereka, semakin tegap saja langkah-langkahnya.I couldn't help but notice. Sesampainya di depan 'barisan' saya, mereka berhenti dan mulai 'berakting normal'. Mengobrol, tertawa, mengangkat gelas, memelintir anting-anting, memegang dagu, pokoknya normal. Seketika itu juga mereka tampak lebih cantik. Tetapi mengapa pindah ke front-line secara serempak dengan kecepatan yang begitu luar biasa sampai-sampai saya harus tergeser sedikit?
Dan ternyata...
Tepat di depan mereka sekarang sudah ada satu 'barisan' lagi, terdiri dari fotografer-fotografer yang menggunakan berbagai nametag dan press-pass, sudah siap untuk menjepret kamera-kameranya.
Saya berani sumpah selama saya berdiri di posisi yang kini sudah diambil mereka, 'barisan' fotografer-fotografer tadi belum terbentuk.
Mereka pintar sekali meniru Baron, padahal saya yakin mereka bukan champion breed.
You can smile now!
.jpg)
