Wednesday, June 23, 2004

Who Let The Dogs Out?

Have you met Baron? Well Baron is my pet Golden Retriever. Yes, he has the golden flying fur, big brown eyes, runs everywhere in and out of the house, a champion breed, somehow smart, and yes, he is very cute (he shows this off by tilting his head and gives an irrisistable smile).

Sounds like a dream pet? Not.

He is hungry all the time. Bahkan setelah tiga kali menghabiskan piring makanannya yang tiga kali lebih besar dari piring saya, dua snack dalam sehari, and occasional ice cream. Setiap kali saya pergi ke meja makan, membuka lemari es, membuka toples dan kegiatan serupa untuk mengisi perut, Baron akan mendekati saya, duduk diam di dekat kaki, dan memandang saya dengan muka penuh kelaparan yang sangat mengerikan. Seketika itu juga ia berubah menjadi singa ganas - dengan bulu lebih sedikit. Anda tidak dapat membayangkan betapa menyebalkan mimik dan kelakuannya pada saat-saat seperti ini (Baron pernah melahap dua roll sushi yang baru saya gulung, langsung dari atas pantry. But that's another nerve-wrecking story. Saya belum memaafkannya sampai sekarang). Intinya, setiap ada makanan barang sedikit, dengan berlari kencang Baron akan menghampirinya, dan berpose. Namun berusaha untuk tidak terlihat 'aduh bagi gue makanannya dong. Im sure you can imagine that.

Ternyata di dunia ini ada manusia-manusia yang kelakuannya PERSIS Baron (saya bersikeras untuk menuliskannya dengan caps lock).

Pada suatu sore, baru-baru ini, saya menemani Ibu saya ke sebuah pembukaan butik flagship di Plaza Senayan. Tampaknya pembukaan butik ini sudah lama ditunggu oleh kalangan pemerhati, pembeli dan pemimpi fashion satu Jakarta, maka dari itu suasana sangatlah ramai dengan kehadiran mereka, yang saya maksud dengan 'mereka' hanyalah pemerhati dan pembeli, serius.
Seperti biasa acara seperti ini dihadiri oleh media, banyak sekali media. Mulai dari majalah papan atas, papan bawah, papan samping sampai ke majalah gratisan (yang akhir-akhir ini cukup progresif dan diminati - boy, a dream come true untuk para pemimpi yang tadi saya sebut).

Hal yang akan saya ceritakan berikut ini benar-benar terjadi, maksud saya, benar-benar terjadi seperti apa yang akan saya tuliskan. Tidak dikurangi, dan jujur saja saya malas untuk melebih-lebihkannya, sebagai konsekuensi dari penggunaan caps lock tadi.

Sambil memegang, sesekali menyeruput minuman dan mendengarkan pembicaraan Ibu saya dengan temannya, tiba-tiba saya merasakan adanya sebuah pergerakan dalam ruangan yang sudah penuh sesak. Posisi orang-orang dibelakang saya berpindah semua, seperti terdorong oleh serombongan ibu-ibu bersasak tinggi, berparas menor, berbaju terang, dan berberlian besar-besar, hampir sepertiga es batu yang ada dalam gelas saya. It's so severe that you can feel the movement at the back of your spines.

Muka-muka mereka begitu kencang, seperti meneriakkan 'ku tahu yang ku mau!. Dan dengan semakin mengencangnya muka mereka, semakin tegap saja langkah-langkahnya.I couldn't help but notice. Sesampainya di depan 'barisan' saya, mereka berhenti dan mulai 'berakting normal'. Mengobrol, tertawa, mengangkat gelas, memelintir anting-anting, memegang dagu, pokoknya normal. Seketika itu juga mereka tampak lebih cantik. Tetapi mengapa pindah ke front-line secara serempak dengan kecepatan yang begitu luar biasa sampai-sampai saya harus tergeser sedikit?

Dan ternyata...

Tepat di depan mereka sekarang sudah ada satu 'barisan' lagi, terdiri dari fotografer-fotografer yang menggunakan berbagai nametag dan press-pass, sudah siap untuk menjepret kamera-kameranya.

Saya berani sumpah selama saya berdiri di posisi yang kini sudah diambil mereka, 'barisan' fotografer-fotografer tadi belum terbentuk.

Mereka pintar sekali meniru Baron, padahal saya yakin mereka bukan champion breed.


You can smile now!

Tuesday, June 22, 2004

Secret Smile

Belum satu menit yang lalu hal ini terjadi pada saya.
Seperti biasa saya online dengan MSN Messenger, dan dengan sekilas saya lihat siapa-siapa saja yang sedang online. Satu nick name teman langsung menarik perhatian saya; 'it's the only thing that there's just too little of '- nick itu yang ia pakai. Saya kira nick name itu seharusnya dipilih yang singkat-singkat saja, tetapi ternyata orang-orang berpikiran lain, mereka lebih memilih untuk menggunakan serangkaian kalimat seperti 'Expecto Patronum', 'kunda ahdi niuai shuwei' (???), and my personal favorite, 'lets make martabakkkkkkkk'. The idea is just too tiring for me.

Kembali ke nick teman saya yang menarik tadi, setelah membacanya saya langsung tahu bahwa ia mencabut kalimat itu dari lirik sebuah lagu yang saya kenal dari soundtrack film My Best Friend's Wedding (a very good movie, I must say), dengan judul What The World Needs Now Is Love. Lalu pembicaraan berikut berlangsung, setelah saya buka dengan berkata 'pasti elo ambilnya dari album My Best Friend's Wedding deh, ya kan?':

it's the only thing that there's just too little of says: (10:54:26 PM)
   haaaaahhhhh

it's the only thing that there's just too little of says: (10:54:30 PM)
   ko tauuuu?!??!?!?!

Golden says: (10:54:40 PM)
   hehe

Golden says: (10:54:47 PM)
   its me youre dealing with

Golden says: (10:54:58 PM)
   bizzare ey?

it's the only thing that there's just too little of says: (10:56:03 PM)
   oo ok

it's the only thing that there's just too little of says: (10:56:04 PM)
   hahahhaha

it's the only thing that there's just too little of says: (10:56:04 PM)
   kinda


Teman saya ini berasal dari fakultas yang berbeda, SMU yang berbeda, pergaulan yang berbeda. Sekalinya saya bertemu dia pasti ya melalui MSN Messenger atau 'amprokan' di jalan, seperti yang terjadi Sabtu lalu. Selebihnya kami tidak mempunyai kesempatan ngobrol bersama. Tapi jika kesempatan itu datang, hal yang dibicarakan sungguh terasa 'bizzare'. Dan ini terjadi berkali-kali. Saya suka itu.

Tidak terjadi setiap hari hal-hal seperti ini, you know. Yang terjadi pada saya, dan mungkin juga pada Anda, adalah sekiranya hal 'bizzare' tadi terjadi, dapat langsung diubah menjadi sebuah ide yang luar biasa kreatif. Inspirasi yang penuh pencerahan. Atau paling tidak, senyum yang terasa amat, sangat enak.


You can smile now!

Monday, June 21, 2004

Color Me Bad

Pernah nonton film The Banger Sisters? Dimana salah satu pemerannya stres berat karena apapun yang ia miliki hanya berwarna satu yaitu beige (putih gading, broken white, cream, coklat muda pucat, etc etc)? Yap, itu juga terjadi pada saya.

Mereka bilang hidup itu hanya sekali, jadi berilah warna pada hidup. Semua partai politik di Indonesia memakai logo yang berwarna-warni (belum pernah saya lihat ada parpol yang menggunakan warna beige untuk logonya). Tak ada cat rambut berwarna beige (tidak bisa disamakan dengan blonde dan gradasinya). Yang paling konkrit, ME-JI-KU-HI-BI-NI-U. See, beige is considered as something that is not important.

Tapi saya tetap bangga dengan pilihan warna saya. Beige untuk polo shirt, kemeja, bed linen, sofa, dan yang paling, paling penting, beige untuk jok mobil. Seringkali saya bangga bisa menjadi seseorang yang terlihat sedikit lebih dewasa dengan menggunakan warna beige sebagai bagian dari pakaian, lain dari teman-teman saya yang berkaus biru, bercelana abu-abu, dan bertas pink.

Sedikit bosan memang, jika setiap kali saya masuk walk-in-closet dan yang terlihat adalah beige sejauh mata memandang, kecuali untuk sepatu, saya bukan Lenny Kravitz.

Well, itulah saya, selalu berpegang pada garis-garis aman dalam kehidupan, layaknya beige adalah warna 'aman'. Beberapa teman perempuan saya sudah berulang kali mencoba mengoreksi color preference saya dengan cara menghadiahkan pakaian berbagai macam warna. Sekali lagi, saya bukan Lenny Kravitz, and hell I look hedious in green.

Pemeriksaan psikologis pada majalah BMW mengatakan 88% orang setuju bahwa mobil berwarna merah dapat berlari lebih kencang dari mobil-mobil berwarna lainnya, khususnya putih dan, yap, beige. Oh well.


You can smile now!

Please, Leave It To The Pros

Bagi sebagian orang, stimulasi untuk bekerja datang dari meja yang berantakan. Pasti anda sudah mempunyai bayangan, atau mungkin meja anda sekarang adalah meja yang berantakan, kertas adalah member tetap, begitu juga alat tulis, bungkus rokok, pemantik dan asbaknya, mug, dan komputer dengan segala atributnya yang tersambungkan dengan kabel dimana-mana. Kakak saya khususnya, mempunyai meja komputer yang persis sepiring spaghetti. Saya tidak mengerti mengapa ia harus memiliki dua buah monitor, dua buah keyboard dan hanya satu buah mouse (menurut saya ia perlu delapan), semuanya tersambungkan dengan kabel yang saling tindih, berketebalan berbeda dan pastinya, berwarna-warni (belum termasuk kabel sekeluarga surround speaker, satu set modem dan telepon). Pernah saya membawa sebotol penuh saus Alfredo dan keju parmesan, namun saya menarik diri untuk menumpahkannya diatas meja itu.

Hal ini tidak terjadi pada saya, instead of a bowl of spaghetti, meja kerja saya lebih mirip dessert di sebuah restoran gourmet - piring putih oversized dengan puding karamel ditengah dan cipratan saus vanila, sebuah meja besar dengan satu iMac.

Kakak saya begitu mahir, sehubungan dengan dunia perkomputeran, tapi ia tak mengenal kata-kata wireless atau bluetooth. Untuk menjaga nilai estetika dan kebersihan meja kerja, saya baru saja mengganti keyboard dan mouse berkabel dengan model baru yang dilengkapi teknologi bluetooth, hanya untuk memusnahkan kabel-kabel yang menurut saya mengganggu. Jaman sekarang kerapihan menuntut harga yang berlebihan.

But look what happens, seperti telepon nirkabel, apabila jauh dari base unitnya maka sinyal yang didapat akan terganggu dan kemudian putus. Setiap kali saya membangunkan komputer saya dari 'sleep mode', butuh waktu yang lama untuknya berkomunikasi dengan keyboard dan mouse saya, dan seringkali pula saya harus melepas alat penerima sinyal bluetooth dari badan komputer agar bisa mulai menulis dan membuka e-mail. Sungguh. Sangat. Merepotkan.

Kakak saya begitu mahir, sehubungan dengan dunia perkomputeran, maka dari itu ia menghindari alat-alat apapun yang tidak berkabel untuk difungsikan bersama komputernya.


You can smile now!

Doodly-Woodly Pat

Teman saya Pat adalah seorang yang luar biasa. Well, paling tidak ia luar biasa dalam melakukan hal-hal yang selama ini ada di dalam kepala saya namun tidak pernah saya lakukan secara nyata - ini terjadi di luar kontrol.

Contohnya, dulu ketika kami bersekolah di SMU yang sama, setiap selesai mengerjakan sebuah tugas dalam kelas saya akan wandering, melamun sambil melihat-lihat keluar jendela, sedangkan Pat akan asyik merancang formasi tim bola sepak kesayangannya. Si itu jadi striker, si ini jadi back, si ina jadi keeper, begitu seterusnya. Dan Pat melakukan ini dengan mencoret-coret dan menuliskannya diatas selembar kertas (bisa juga tisyu, bisa juga bon bekas), lengkap dengan arah-arah kemana kesebelasan itu akan berlari. Simpel, detil, spesifik, smart. Semuanya dilakukan diatas kertas, dan sepertinya Pat sangat puas dengan hasil yang ia dapatkan.

Bukan hanya formasi tim sepak bola, tapi anything in general. Apapun hal yang muncul di kepalanya, yang takut terlupakan, akan Pat tulis diatas apapun itu juga. Termasuk meja-meja dalam kelas, which violates the school rule, but boy did we give a poo about that? Yang saya dapati dalam folder Pat ketika mencari catatan untuk sebuah pelajaran tak lain adalah coretan-coretan kecilnya, berikut adalah beberapa yang bisa saya ingat:

1. Susunan makalah
2. Makalahnya due minggu depan!
3. Cari lyric Sugar Ray
4. Formasi Leeds United
5. Revisi formasi Leeds United
6. Beli bolpen
7. Revisi ulang formasi Leeds United
8. Potongan lirik dari soundtrack Moulin Rouge

Dan seterusnya, dan seterusnya, dihiasi beberapa karikatur dan doodle-woodle lainnya, termasuk kekalahannya yang kesekian kali melawan saya main catur Jawa.

Setiap kali saya melihat catatan kecil yang dibuatnya, saya pasti akan melewatinya begitu saja, dan bila sudah terlalu sering menemukan catatan-catatan serupa, saya akan mencibir dan mengumpat sendiri, and if I had had enough, saya akan lempar folder itu ke mukanya dan mencari folder teman lain untuk mencari informasi yang saya perlukan. Apa dia pikir semua benda yang bisa dibubuhi tulisan adalah Post-It? Why don't you go and get yourself a decent PDA instead, Pat? Geez!

Tapi lihat apa yang terjadi minggu depannya; saya lupa mengumpulkan makalah saya sehingga total nilai akan dikurangi 20%, Pat dan beberapa teman saya yang lain dengan asyik menyanyikan lagu Sugar Ray terbaru sambil melihat print-out lirik plus chord gitarnya (oh how I love singing along in groups!), niat saya untuk istirahat sebentar di klinik sekolah batal karena bolpen saya macet dan Dean of Student menolak untuk meminjamkan bolpennya, dan yang paling parah, formasi Leeds United karangan Pat benar-benar terwujudkan, tak peduli menang atau kalah.

Sejak itu saya selalu menyimpan persediaan Post-It dan bolpen dalam locker saya.


You can smile now!
PS: Sekarang Pat sudah mengenal Blog dan seringkali menuliskan pikiran-pikirannya untuk dibaca kita semua, meskipun rancangan formasi kesebelasan sepak bola manapun tidak tersedia. Silahkan klik dirins.blogspot.com, you will find that he is very different from who I am, but we're very good friends. Plus, he deserves a credit for my writings.

I Swear I Am Not Related to Winona Ryder!

Sore tadi saya berjanji untuk bertemu dengan seorang teman, dan setelah berhitung sekenanya saya memutuskan untuk berangkat setengah jam sebelumnya. Tapi tiba-tiba ditengah jalan saya ditelpon, dan sebelum ia mulai berbicara, saya bisa mendengar bahwa ia sedang berbicara pada penjual tiket di bioskop. Aduh, berarti dia mau nonton dulu, nih. Dan benar, saya harus menunggu kira-kira satu jam - sendirian.

Untungnya, tepat di samping kursi kemudi saya temukan buku Harry Potter and The Prisoner of Azkaban yang baru sepertiga terbaca, so I thought I might buy a coffee and then read. Tapi tunggu dulu, kalau saya minum kopi sekarang, lalu apa yang saya minum nanti ketika mengobrol dengan teman saya? Another coffee? Lalu tersirat bayangan saya dengan mata enggan menutup malam nanti karena dua gelas tall Americano. Nope, I can't afford that.

Jadilah saya ke sebuah toko buku, I can always spend hours in a bookstore without even realising. Niat saya adalah untuk membaca-baca majalah, dan membeli satu atau dua apabila benar-benar menarik.

Sesampainya di toko buku saya langsung menuju bagian majalah-majalah. Setelah berjalan dari parkiran ke lantai lima, saya berharap saya akan menemukan sofa kecil agar bisa membaca majalah sambil melepas pegal-pegal sisa menyetir dan naik tanggga berjalan - tapi tidak, tudak ada sofa sama sekali, malah lorong tempat dimana majalah-majalah itu dipajang penuh sesak dengan orang-orang yang mungkin sedang menunggu temannya nonton film juga (atau cheap-skate seperti saya yang tidak mau membeli majalah sebelum melihat isinya). Apa mau dikata, saya mencari sedikit space untuk saya berdiri - ya, berdiri - dan membaca majalah.

Belum sempat saya menyesali tidak adanya sofa tersedia, something really-weely bad came up. Semua majalahnya dibungkus plastik! Yap, dengan selotape dan segala macamnya, beberapa lainnya dibungkus menggunakan plastik kedap udara - tidak mungkin untuk dibuka! Oh man...

Jalan keluar yang saya dapat adalah menunggu orang tak tahu malu yang sudah lebih dulu menelanjangi majalah yang ingin saya baca (dan malas untuk memasukkannya kembali ke dalam plastik), dan langsung menyabet majalah telanjang tadi. Sukses sih, kurang lebih dua atau tiga majalah sudah saya baca, walaupun majalah yang terakhir sedikit maksa - Vogue Wedding, like why would I read that? Tapi santai...

Yap, GQ dan Vanity Fair keluaran terbaru cukup menarik, dan sudah waktunya saya bertemu teman saya tadi. Setelah membayar di kasir, saya langsung menuju meeting point dengan tergesa-gesa.

This is the interesting part. I promise.

Sedikit setelah melalui pintu keluar toko buku, saya di stop oleh seorang satpam. Ia menunjuk ke lengan kiri saya dengan muka kencang, seperti muka kepala sekolah saya dulu. Dan dengan bingung saya ikut-ikutan melihat ke lenga kiri saya

Shit - Ada satu kopi Harry Potter di situ.

Ternyata dari tadi saya menjinjingnya sejak keluar dari mobil. Yap, absent-mindedly. Mungkin hanya lupa, atau mungkin plain-stupid, atau mungkin saya memang ingin dua tall Americano - saya tak begitu yakin.

Dengan susah payah saya menjelaskan kepadanya bahwa itu buku saya, menunjukkan lipatan-lipatan halaman dan noda bekas tumpahan kopi (atau saus tomat, saya juga tak yakin akan hal ini), yang tidak begitu meyakinkan karena novel itu baru sepertiga saya baca, dan halaman-halaman berikutnya masih rapih, belum tersentuh. Saya juga tidak sempat memberi nama pada buku itu, but does it matter in a situation like this?

Akhirnya, setelah kembali ke kasir untuk memastikan bahwa buku itu bukan hasil curian, saya meneruskan perjalanan saya ke meeting point - terlambat seperempat jam.

The lesson for today is: DO NOT, FOR WHATEVER REASON, BRING A YOUR BOOK TO A BOOK STORE, kecuali untuk menukarnya dengan yang baru. Darn.


You can smile now!

Kahlil Gibran Is Full of Denial, Apparently

Sebuah SMS baru saya terima dari seorang teman baik. Begini bunyinya:

Jika anda cinta seseorang, biarkan dia pergi,
dia akan kembali lagi untuk anda.
Jika tidak, anggaplah tak pernah ada.
- Quoting Kahlil Gibran

Really? Anggaplah tak pernah ada? I don't think so. I really, really disagree. In fact I am laughing with amusement right now.

Nggak segitu gampangnya lho, menganggap sesuatu itu tidak pernah ada. You can really trust me on that. Teman saya yang mengaku tidak tahu apa-apa tentang cinta pernah menulis sebuah artikel kecil, dan nyatanya ia meng-cover hampir semua area tentang cinta dalam tulkisannya yang tidak sampai 300 kata tadi. Kapan-kapan akan saya publish di sini, apabila dapat izin dari si penulis.

Dalam tulisan itu ia berkata begini, 'When you decided that he or she was the right one to love, you should have considered if she or is he the right person to get hurt with? Would they be all worthy?'. Jadi kira-kira kalau kita sudah berkeputusan untuk berkata 'Aku cinta Kamu', berarti kita sudah tahu pasti bahwa that certain someone juga akan membuat kita berkata 'Aku benci Kamu'. Kontradiktif, but annoyingly true.

Untuk menganggap bahwa seseorang yang kita cintai tidak pernah ada, adalah untuk berbohong pada diri kita sendiri. It is worse than lying to your Mommy, really. Denial plays a big part here, and it has been proven that denial brings unhealthy effect to our minds, tanpa atau dengan kesadaran.

Ya ya, SMS simpel tadi sudah berubah menjadi sebuah pemikiran yang sedikit kompleks, tapi hey, Cinta itu memang kompleks kan?

Apa? Cinta itu sederhana? Now don't start giving yourself another denial dude...

The Good Old Blog

I know I am a little bit late for this thing ya, pasalnya pengertian 'Blog' yang ada dalam pikiran saya selama ini adalah sebuah sarana untuk menjabarkan kejadian sehari-hari seseorang, which I personally think is very boring and even more, a cheap way to be a true modern-day narcisist.

Tapi, thanks to my ol' pal Pat, persepsi saya tentang 'Blog' ini sudah berbalik arah. Bukan hanya untuk menceritakan apa-apa yang sudah saya lakukan seharian tadi, apa yang saya makan, apa yang saya tonton, jalan mana saja yang saya lewati, atau lebih lagi, forum curhat massal (believe me, curhat is the last thing I want to do in front of public, nggak tahu ya bagi sebagian orang yang sering melakukannya, but again, please believe me that it is damn annoying).

Seperti Pat, site ini akan saya gunakan untuk berbagi 'thoughts', yang ringan-ringan saja tentunya. Karena, please deh, terlalu sedikit waktu yang diberikan untuk hidup jika hanya dipakai untuk membaca gerak-gerak keseharian seseorang, bukan?

Well sometimes dalam membaca 'Blog' normal dimana setiap post-nya akan dimulai dengan "Hari ini gue... Abis itu gue... Terus gue... Seneng deh!" (ya, saya pernah membacanya, dan ya, saya menyesal telah menghabiskan tiga menit itu di depan komputer), dapat ditemukan berbagai cerita lucu atau menyenangkan yang dapat membuat kita sedikit tersenyum. Namun momen-momen seperti itu tidak dapat dijanjikan akan kita dapat, lho.

Suatu kali saya pernah membaca 'Blog' site teman saya yang baru ditinggal pergi oleh seseorang yang dikasihinya. Yes, as in permanently gone a.k.a. dead. Dalam post-nya pada hari itu ia bercerita tentang segala sedih dan suka yang mereka lewati bersama, dan ditulis dengan hati yang penuh dan kejujuran yang sangat tajam. Lima menit kemudian saya tersadarkan betapa bagusnya rangkaian tulisan yang telah ia buat tentang almarhum. Dan hari itu juga sebagian dari diri saya berjanji bahwa saya akan lebih memberi perhatian pada orang-orang di sekitar saya.

Simple things, kan? But that's what I would call a good 'Blog'.

So, Pat, bukannya mencuri ide elo, tapi kali ini kita berada dalam ladang ide yang sama, dengan goal yang sedikit berbeda.